Kali pertama, sebuah bagian dunia yang belum pernah kuinjakan kaki disana. Masih asri, rindang dan sejuk. Pepohonan berjajar rapih menyambut hangat kedatanganku dan kawan-kawan. Jalannya memang tak asri lagi, ia sudah disentuh oleh kemajuan zaman. Walau begitu, keindahannya tetap kunikmati.
“subhanalloh”, ucapku dalam hati.
Inilah keindahan yang diciptakan tuhan. Ini untuk manusia, tapi adakah manusia sadar untuk mensyukurinya? Pertanyaan untuk semua manusia di bumi. Jika memang kita adalah pecinta bumi. Planet yang disediakan tuhan dengan segala fasilitas kemewahan yang tak terbatas.
Langkahku terhenti, tempat itu tak dijaga. Kami menunggu waktu dengan tak sabar. Ya, menunggu bukanlah pekerjaan. Tak ada yang senang jika harus menunggu. Beberapa saat penjaga datang dan langsung membukakan jalan masuk bagi kami.
“alhamdulillah”, ucap kami serentak.
Masih dengan menumpang kendaraan yang akan mengantar kami ke sebuah penginapan. Jalannya agak terjal, menanjak namun kami nikmati. Hingga tiba-tiba...
“Astagfirulloh”, ucap kami serentak.
Sebuah kendaraan motor yang melaju di depan kami tiba-tiba terhenti dan hampir jatuh, dengan sigap sang sopir pun menghentikan kendaraannya.
“alhamdulillah”, ucap kami lega.
Pengendara motor itu masih kawan kami, mereka tidak terluka hanya tidak dapat menjaga keseimbanagan motornya. Mereka pun mencoba menepi namun akhirnya melanjutkan kembali perjalannya.
Tidak perlu banyak waktu bagi kami untuk sampai di sebuah penginapan yang sederhana. Namun cukup untuk menampung kami. Aku lupa tidak menghitung berapa jumlah kami, tapi kupikir untuk apa dihitung?
“Sudahlah, tak usah dipikirkan”, gumamku dalam hati.
Kedatangan kami ternyata disambut lantunan adzan maghrib, entah dari mana. Karerna sepanjang jalan yang kulalui tak kutemui satu masjidpun. Entah karena tak ada atau mungkin karena aku terlalu asik menikmati keindahan ini.
“Allohu Akbar...”, serentak kami pun mengikuti kalimat-kalimat adazan yang terlantun.
Dua kamar mandi telah tersedia, aku dan kawan-kawan segera beranjak untuk berwudhu-sebagai salah satu syarat syah shalat- dan melaksanakan shalat. Kawan-kawan telah bersiap untuk shalat berjama’ah, namun aku tak bisa mengisi jajaran shaf yang kosong. Air wudhu sama sekali belum menyentuh wajahku. Dengan sedikit kecewa kutunggu giliran untuk masuk kamar mandi.
Kutemukan satu kawan ternyata belum shalat, kuajak ia untuk berjama’ah bersamaku. Ia menyambut dengan suka cita. Lalu ia kumandangkan komat.
“Allohu Akbar...”, saatnya aku menghadap tuhan.
Aku memanfaatkan waktu dengan menjamak shalat. Sedang yang lain ada yang terlihat ngobrol, baca al qur’an dan ada juga yang mempersiapkan acara selanjutnya. Ya, tujuan utama kami kesini adalah untuk menyusun Program Kerja.
Baru kali ini aku merasakan menyusun program kerja dengan rangkaian acara seperti ini.
Tak terasa adzan kembali berkumandang. Kawan-kawan bersiap merapihkan shaf. Mereka berdiri menegakkan rukun islam kedua dengan berjamaah. Sambil menunggu waktu, kuhabiskan waktu dengan ngobrol bersama kawan-kawan baru. Waktu kami terpotong dengan panggilan senior yang meminta kami untuk berkumpul di pendopo. Itu adalah saat kami mengisi perut yang rasanya memang belum terisi semenjak tadi siang.
Doa pun dipimpin oleh salah seorang dari kami. Dengan sedikit bercanda kami habiskan santapan malam ini. Tak berapa lama kemudian, tempat telah kembali raiph, siap untuk dipakai acara selanjutnya. Kami untuk MC untuk membuka acara.
“Bismillah...”, ungkapnya memulai.
Rangkaian acara sambutan menghiasi pembukaan acara ini, tibalah saat tiga formatur inti duduk didepan memberi petunjuk apa yang mesti kami lakukan.
“Assalamu’alaikum”, sapa ketua yang dibalas kembali oleh salam.
Ketua menginstruksikan agar kami berkumpul er departemen untuk merencanakan dan menyusun program kerja satu tahun ke depan. Kami pun mulai menyebar dan berkumpul sesama departemen. Mengawali dengan berkenalan dan penjelasan umum dari ketua bidang, lalu kami mulai mendiskusi tentang program-program yang bisa kami capai. Butuh waktu sekitar tiga perempat jam untuk menyusun beberapa program kerja.
“Masih belum berani berani.” ungkapku dalam hati ketika seseorang memintaku untuk mengajukan program.
Seusai program direncanakan, saatnya tiap departemen mengajukan programnya untuk disepakai bersama. Diskusi dan debat yang panjang tidak hanya menghabiskan waktu satu atau dua jam. Namun acara inti ini baru dikatakan selesai satu jam sebelum adzan shubuh memanggil.
“Subhanalloh...ternyata seperti ini suasana berorganisasi di kampus.” Gumamku dalam hati.
Kami diberi waku istirahat sekitar satu jam untuk sekedar melemaskan otot-otot yang kaku dan memejamkan mata yang mulai tak bisa berkompromi. Tak bisa tidur, suara gaduh di luar mengusik tidur yang telah kusiapkan. Hilir mudik orang berlalu lalang di depanku. Sampai akhirnya kudengar suara mengingatkan untuk melaksanakan kewajiban yang lima waktu. Kududukan tubuh yang masih terasa berat. Namun air wudhu yang kubasuhkan ke badan menghilangkan rasa lelah, airnya terasa menyejukan, setelah itu kuambil mukena dan kumuali doaku pada tuhan.
Kawan-kawan masih ada yang terlelap tidur, ku dapat maklumi, mereka begitu lelah. Sebagian berpamitan pulang duluan, namun tak sedikit yang memanfaatkan waktu sekedar menikmati panorama indah ini. Tak ingin ketinggalan, kuajak kawan untuk menemaniku jalan-jalan. Kami pun bersiap pergi, melewati jalan berumput yang basah oleh embun. Hingga akhirnya...
“Innalillahi...”, suara terkejut karena tak menyangka jalan yang begitu licin menjatuhkanku.
Agak sakit, namun ternyata...
“Astagfirullohal ‘adhim...”, kali kedua kuterjatuh, namun kali ini aku menimpa kawan dibelakngku yang juga jatuh dan kakinya mengenaiku hingga aku pun harus ikut terjatuh.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan meringis menhan rasa sakit. Namun kuhibur dengan rasa bercanda, dan menganggapnya sebagai kenangan. Hanya sebentar, karena kawan-kawan sudah mulai berkumpul. Sesampainya kami di penginapan, kawan yang lain talah menyiapkan saran pagi sederhana, walau begitu, tetap terasa menyenangkan. Kami habiskan waktu dengan mengakrabkan diri dengan kawan-kawan yang lain. Lalu membereskan barang bawaan dan tempat penginapan. Sebentar lagi mobil jemputan akan datang.
Tak berapa lama, mobil dengan dominasi hijau un datng dan berhenti tepat di depan pendopo. Kami pun bergegas memasuki mobil dan bersiap untuk Pulang.
“Alhamdulillah...”, melewati jalan yang sama. Kulihat gapura bertuliskan “BUMI PERKEMAHAN KIARA PAYUNG”